Entri yang Diunggulkan

Minggu, 12 Maret 2017

Hal Kecil Bisa Jadi Besar





Sepasang suami istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. 
Seekor  tikus memperhatikan makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??” Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang, mendatangi ayam dan berteriak “ada perangkap tikus”. Sang Ayam berkata “Tuan Tikus, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh padaku”. Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata “Aku turut ber simpati, tapi tidak  ada yg bisa aku lakukan”. Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. “Maafkan aku. Tp perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”.
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata “Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”. Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.
Walaupun sang Suami sempat membunuh ular tersebut, sang Istri tetapi harus di bawa ke rumah sakit. Beberapa hari kemudian istrinya demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. Dengan segera ia menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Tetapi sakit sang Istri tak kunjung reda. Seorang teman menyarankan utk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambing untuk mengambil hatinya. Istrinya tidak sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan para pelayat.

Dari kejauhan sang Tikus menatap dangan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tdk digunakan lagi.
Ilustrasi, cerita Lucu, cerita Inspirasi Bagian 1 40
 
SUATU HARI, KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA… LEBIH BAIK PIKIRKANLAH LAGI!

Liturgi Pelantikan Guru Injil



Liturgi Pelantikan Majelis

Ilustrasi; Bukan Beratnya Tetapi Berapa Lamanya




Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira-kira  segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
             

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."


"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.    "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Kasih Ibu



Konon di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap ibunya.
Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata,"Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah..."
Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

Ilustrasi- Bibir Seorang Kristen

Bibir Seorang Kristen

Suatu masa hiduplah seekor singa yang liar dan buas. Setiap kali bertemu makhluk hidup lain dan terutama manusia pasti saja akan diterkam dan dilahap habis. Tulang-tulang yang keras sekalipun pasti akan remuk dan tak pernah tersisa oleh taringnya yang runcing. Suatu saat, ketika tahu bahwa orang Kristen adalah orang-orang baik, maka berkatalah ia kepada teman-teman singa yang lain: 'Aku telah mendengar seruan di padang gurun, dan saya ingin bertobat. Saya pasti tak akan menggangu orang-orang kristen lagi. Saya akan membiarkan mereka tetap hidup, dan tak akan lagi menjadikan mereka santapan pemuas isi perutku.'

Namun setelah lewat beberapa hari, seorang Kristen lewat. Singa liar dan buas itu sekali lagi melahap orang itu. Seluruh bagian tubuh orang tersebut dimakan habis tak tersisa, kecuali bibirnya. Ia lalu dicemoohi teman-temannya: 'Bukankah engkau ingin bertobat dan berjanji tak akan menjadikan orang Kristen sebagai santapan lezatmu?? Mengapa hari ini engkau justru sekali lagi membunuh seorang Kristen?'

Singa buas itu menjawab: 'Saya memang sudah berjanji untuk tidak menerkam orang Kristen. Namun orang yang telah kumakan itu telah kucium sebelum diterkam. Ternyata sama sekali tak tercium aroma kekristenan, kecuali bibirnya saja. Karena itu bibirnya sajalah yang tidak kumakan.'

Ilustrasi-Memberi

 ILUSTRASI

Ada seorang ayah/bapak yang sangat cukup yang mempunyai 19 ekor kerbau, dan 3 orang anak. Mendekati ajalnya, dia membagikan warisan kepada ke tiga anaknya dengan pesan pembagian harta warisan
  • 1/2 untuk anak pertama,
  • 1/4 untuk anak kedua dan
  • 1/5 untuk anak ketiga.
Setelah sang bapak meninggal, ketiga anaknya membagikan kerbau sesuai pesan ayah mereka.
  • Anak pertama           : mendapat ½ bagian dari 19 ekor      :  9 ½
  • Anak ke-2                : mendapat ¼ bagian dari 19 ekor      :  4 ¾
  • Anak ke-3                : mendapat 1/5 bagian dari 19 ekor    :  3,8
 
Tapi mereka menemukan keganjilan, mereka sadar bahwa masing-masing mereka akan mendapatkan bagian kerbau yang tidak utuh. Kalau dilaksanakan berarti ada kerbau yang harus dipotong, dibagi-bagi. Mereka tidak suka, dan ngotot harus mendapat utuh. Masing-masing tidak mau mengalah dan berusaha mendapatkan bagian utuh.

Terdengarlah kabar pertengkaran mereka oleh seorang bapak yang miskin yang hanya punya 1 ekor kerbau. Akhirnya, bapak tersebut menemui mereka, dan bersedia dengan ikhlas, tulus  memberikan kerbaunya supaya masing-masing mendapat  bagian yang utuh. Tidak ada yang setengah-setengah.
Nah ini kerbau bapak, tambahkan dengan yang 19 tadi, jadi 20 ekor.
Anak-anak itu setuju, dan mereka mulai membagi.
  • Anak pertama mendapat ½ bagian dari 20                 : 10 ekor
  • Anak kedua mendapat ¼ bagian dari 20 ekor            : 5 ekor
  • Anak ke-tiga mendapat 1/5 bagian dari 20 ekor        : 4 ekor
Lala si bapak tua berkata : sekarang tugasku sudah selesai, amanah almarhum AYAH kalian sudah kita jalankan.
  • Anak pertama dapat    : 10
  • Anak ke-2 dapat         : 5
  • Anak ke-tiga dapat      : 4

Jumlah total sapi yang dibagi 19 ekor

Sisa satu, bolehkah saya membawa yang satu ekor ini ???
Anak-anak mempersilahkan si bapak membawa sisa 1 ekor


SAUDARA KETIKA KITA MEMBERI KITA TIDAK SEDANG KEHILANGAN DAN KEKURANGAN
·   Banyak orang berpikir, ketika kita memberi itu berarti kita mengurangi jatah belanjaan kita, jatah kebutuhan kita
·   Ketika kita memberi itu berarti kita mengurangi tabungan kita, yang seharusnya mungkin kita bisa menabung 500 sebulan, karena banyak tek-tekan, maka akhirnya kita tidak bisa menabung
·      Ketika kita memberi itu berarti kita kehilangan sesuatu yang seharusnya bisa kita beli dan miliki

Tetapi ketika kita MEMBERI….. SESUNGGUHNYA KITA TIDAK SEDANG KEHILANGAN SESUATU DAN TIDAK SEDANG MENGALAMI KEKURANGAN
Ketika memberi kita sedang dalam membantu orang lain

Dari ilustrasi tadi, sebenarnya dan seharusnya dengan jumlah 19 ekor yang pertama mereka bisa memperoleh kerbau secara utuh
Anak pertama :10
Anak ke 2 :5
Dan anak ke 3: 4
Tetapi mengapa setelah dibagi, masing-masing anak tidak mendapat bagian yang utuh

Setelah dibantu menjadi 20 ekor, dibagi, mereka mendapat utuh, TETAPI SEBENARNYA JUMLAH KERBAU TIDAK PERLU DITAMBAH, MEREKA TIDAK KEKURANGAN KERBAU, karena toh setelah dijumlah hanya perlu 19 ekor saja untuk mendapatkan bagian yang utuh.

maka : 
  • Ketika memberi kita sedang meringankan beban, kesusahan orang lain
  • Ketika memberi kita sedang menyempurnakan SESUATU
        Terkadang kita dipanggil TUHAN UNTUK :
v  MENYEMPURNAKAN
v  Untuk terlibat bukan karena orang BERKEKURANGAN
  • Ketika kita memberi, firman Tuhan katakan, secara tidak langsung maka kita memiutangi TUHAN
http://alkitab.sabda.org/images/advanced.gif
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN yang akan membalas perbuatannya  itu.

Banyak hal dalam dunia ini yang tidak bisa didasarkan atas logika dan matematika.

Hanya perlu SEBUAH TINDAKAN IMAN yang mungkin bagi dunia dianggap sebuah tindakan tanpa perhitungan dan perencanaan. Itulah yang dilakukan ABRAHAM sehingga ia disebut Bapa orang beriman.

Mengapa kita tidak berani memberi lebih, letak persoalannya adalah kita masih memandang memberi itu adalah tindakan MENGURANGI BAGIAN KITA.

Belajar dari Susanna Annesley

 
Belajar  dari Susanna Annesley
(20 Januari 1669 – 23 Juli 1742)
Menjadi seorang ibu tidak gampang, sebab ia harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, selain itu ia juga harus mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik, bertanggung jawab dan takut akan Tuhan.
Zaman sekarang mendidik seorang anak saja sudah cukup merepotkan; apalagi pengaruh teknologi Televisi, Komputer dan Internet serta ditambah dengan pergaulan bebas anak-anak muda. Yang namanya Narkoba sudah tidak asing lagi dikalangan mahasiswa bahkan para siswa yang masih Sekolah Menengah. Itulah sebabnya ibu yang baik harus senantiasa memantau anak-anaknya dan membimbing mereka ke jalan yang benar, jikalau lalai; maka air mata kita selama hidup ini tidak cukup untuk mengembalikan kebahagiaan anak-anak kita.

Susanna Annesley dan Latar belakang Keluarga__Sejarah gereja mencatat seorang ibu yang cukup terkenal dan berhasil di dalam mendidik anak-anaknya. Kita akan coba menelusuri latar-belakangnya secara singkat. Nama ibu itu adalah Susanna Wesley. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang sangat kelihatan buah-buah karya rohaninya, baik sebagai pendoa bagi anak-anaknya maupun dukungkan buat pekerjaan pelayanan sang suami. Nama kecilnya Susanna Annesley, lahir di London pada hari Rabu, 20 Januari 1669. Ia merupakan anak bungsu dari 25 bersaudara dari pasangan Dr. Samuel Annesley and Mary White, dan ia yang dianggap paling cantik parasnya dan cerdas dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, meskipun karena sulitnya kehidupan ekonomi ia hanya menerima pendidikan yang rendah. Sejak kecil ia telah menunjukkan minat belajar. Koleksi banyak buku ayahnya menjadikan ia mampu menyerap banyak ilmu.
Ia memiliki banyak kemampuan yang sanggup menaklukan para remaja pada zamannya, sehingga mereka menjadi minder. Pada saat remaja saja ia sudah sanggup baca dalam tiga bahasa yang cukup penting yakni bahasa Ibrani (bahasa Perjanjian Lama), bahasa Yunani (bahasa Perjanjian Baru) dan Bahasa Latin (bahasa Alkitab Septuaginta). Pada usia tiga belas tahun, ia sudah mampu membaca Alkitab berbahasa Yunani dan Ibrani serta memahami isinya. Dan yang lebih luar biasa dari gadis remaja ini adalah ia mampu beragumentasi secara teologis dengan ayahnya yang merupakan seorang pendeta. Semua ini tentu tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan sang ayah semasa mereka masih kecil dan dukungan dari kakak-kakaknya. Pendeta. Dr. Samuel Annesley selalu mendorong anak-anaknya untuk belajar bebas mengutarakan pendapat dalam segala hal. Kemudian juga ditambah dengan pelajaran bahasa yang diberikan serta didukung dengan koleksi buku-buku perpustakaan pribadi sang ayah yang cukup banyak.

Sistem dan pola pikir yang bebas ini memungkinkan Susanna pindah dari gereja ayahnya dan bergabung di Gereja Anglikan. Kemudian dilanjutkan dengan konsep teologianya yang bertentangan dengan sang ayah yakni Sosianisme yang anti Tritunggal, namun ayahnya sangat menghargai keputusan yang diambil putrinya. Minat belajar dan membacanya sangat luar biasa, sehingga walaupun beliau sebagai isteri pendeta dan ibu rumah tangga masih sanggup melalap buku-buku yang berbau teologia.

Pengenalan adalah sesuatu yang penting_Samual Wesley demikianlah nama suaminya, seorang mahasiswa teologia yang terkenal memiliki otak yang cemerlang. Pada masa pacarannya dipenuhi dengan banyak waktu untuk berdiskusi masalah-masalah teologia. Setelah masa pacaran mereka berlalu selama tujuh tahun, akhirnya tahun 1688 Samuel Wesley membawa Susanna Annesley ke jenjang pernikahan menuju bahtera rumah tangga sebagi isteri seorang pendeta. Peranan Susanna sebagai isteri cukup berpengaruh untuk mengatur roda kehidupan rumah tangganya.

Susanna dan ekonomi Keluarga_Sebagai seorang pendeta di desa kecil Inggris, otomatis mereka menerima gaji yang sangat minim; belum lagi ditambah dengan jumlah anaknya yang cukup banyak yakni sembilan belas orang. Oleh sebab itu sering kali keluarga pendeta Samuel Wesley ini terlibat masalah utang. Seorang tukang daging misalnya pernah mendatangi Susanna untuk menagih hutang yang sudah lama tidak dibayar, namun karena Susanna tidak memiliki uang sedikitpun, maka usaha tukang daging itu pun sia-sia. Di lain pihak Susanna sendiri berusaha sendiri untuk mencukupkan kebutuhan keluarga dengan berladang, memelihara sapi perah, ayam yang menghasilkan telur dan ternyata berkat Tuhan senantiasa cukup, sehingga mereka tidak pernah sampai merasa kelaparan. Masalah hutang-piutang ini bertambah sulit ketika suaminya Samuel dijebloskan ke dalam penjara karena hutangnya yang membeludak. Untuk membebaskan suaminya Susanna terpaksa meminta bantuan dari seorang Uskup Agung.

Konflik dalam Keluarga_Dengan anak yang cukup banyak, ditambah kesulitan ekonomi mereka, maka tidak jarang di dalam keluarga besar ini sering terjadi pertengkaran-pertengkaran.
Samuel sebagai kepala rumah tangga selalu berkeinginan mengatur masalah keluarga, namun ketika bertemu dengan isterinya ia senantiasa terbentur. Bila terjadi perbedaan pendapat, keduanya mempertahankannya dari sudut pandang Alkitab. Keduanya memiliki dasar pemahaman teologi yang dalam sehingga tidak ada yang dapat mengalah dan jarang keduanya bertindak di luar batas: Samuel tidur diranjang yang lain. Sekalipun masing-masing memiliki pendirian yang teguh dalam mempertahankan pendapat, tetapi jauh di lubuk hatinya ia merindukan kehadiran suaminya dan sangat mengasihi suaminya. demikian juga suaminya sangat mengerti keadaan istrinya tercinta.

Susanna dalam mendidik anak_ Sebenarnya sejak muda Susanna sudah merencanakan supaya keluarganya tidak memiliki banyak anak seperti ibunya yang melahirkan dua puluh lima anak, namun kenyataannya ia harus melahirkan sembilan belas orang anak, dan sembilan diantaranya meninggal. Anak sulung Susanna diberi nama seperti nama ayahnya yaitu Samuel, sedang anak keduanya bernama Susanna.
Tentu saja Susanna sangat sibuk mengurus anak-anaknya. Namun ia mengajar dan melatih tiap-tiap anaknya dengan cermat sekali. Misalnya tiap anak dalam keluarga Wesley dibimbing untuk belajar bicara dengan mengulangi Doa Bapa Kami.
Susanna adalah seorang guru yang pandai. Ia tahu  bahwa murid-muridnya atau anaknya akan cepat bosan kalau disuruh membaca dan menghafal saja. Maka jam pelajaran dalam rumah tangga Wesley tiap hari dimulai dan ditutup dengan nyanyian. Tentu saja nyanyian itupun ada manfaat rohaninya, karena semuanya diambil dari kitab Mazmur.
Dalam kehidupan rumah tangga mereka sehari-hari, sehabis makan pagi biasanya diadakan kebaktian keluarga yang berfungsi untuk membangun kerohanian pribadi dan keluarga juga sebagai persiapan memberitakan firman Tuhan pada hari Minggu.
Dalam hal mendidik anak, setiap malam sebelum anak-anaknya tidur, Susanna selalu mendoakan mereka satu persatu, baru kemudian ia pergi tidur. Harapannya bagi anak_"Tidak ada yang lebih saya harapkan selama hidup ini kecuali melayani anak-anak yang telah saya lahirkan. Saya mau apabila hal ini berkenan bagi Allah, menjadi alat-Nya melakukan semua yang baik bagi jiwa-jiwa mereka," itulah harapannya.
Ia selalu memberi tugas membaca kepada anak-anaknya satu pasal dalam perjanjian baru untuk bacaan pagi dan satu pasal perjanjian lama untuk bacaan malam, dan membaca Mazmur dua kali setiap hari. Ia sangat yakin bahwa tidak ada buku yang setara dengan Alkitab dalam mendidik anak-anak ataupun orang dewasa dalam pertumbuhan rohani.
Walaupun Susanna sudah begitu tekun mendidik anak-anaknya, tetap saja tidak sempurna. Satu orang anak perempuannya meninggalkan pengajarannya yakni Hetty, ia melarikan diri bersama pacarnya; namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya.
Susanna dan Disiplin_, Susanna tampaknya tidak ingin berdiam diri. Dalam posisinya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ia sangat merindukan anak-anaknya menjadi besar dan berhasil sebagai anak-anak kristen. Karena itu ia mengatur roda kehidupan rumah tangganya dengan disiplin ketat. Susanna berpendapat bahwa hari yang dijalankan dengan tertib dan teratur akan menjadikan segala kegiatan berjalan baik dan tak ada yang terlupakan.
               Maka kedisiplinan , keteraturan merupakan sesuatu yang sangat penting yang sudah dimulai dalam keluarga Wesley, maka gereja Methodist dikenal dengan semboyan “Alkitab ditangan kanan, Disiplin di tangan kiri”
Melayani_Sebagai seorang isteri pendeta, sudah banyak suka-duka yang dikecap oleh Susanna. Namun demikian semua itu, tidak pernah mematahkan semangatnya melayani Tuhan. Ketika suaminya pelayanan ke luar kota, ia memakai kesempatan untuk mengumpulkan orang-orang untuk bersekutu dan mengajarkan firman Tuhan. Setiap minggu hampir dua ratus orang yang ikut dalam persekutuan itu.
Tahun 1711, Susanna memulai pelayanannya di sekolah minggu.  Firman Tuhan dan khotbah sederhana yang ia persiapkan untuk anak-anak Sekolah Minggu itu didengar oleh tiga pulu sampai empat puluh orang setiap minggu.
Membantu Suami_Selain mengatur dan menjalankan keperluan hidup sehari-hari, ia juga membantu suaminya mempersiapkan kotbah-kotbah. Termasuk membantu mengingatkan jadwal kunjungan.
Memperlengkapi Diri_Ditengah-tengah segala kesibukan ini, Susanna masih menyempatkan diri untuk membaca buku selama dua jam setiap hari terutama tentang hal-hal yang baru.
              
Kehidupan yang dialaminya dalam berumah tangga dapat dikatakan seimbang di satu sisi, ia kehilangan anak-anaknya ketika mereka masih bayi dan disisi lain ia berhasil membimbing dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa, terutama dalam iman. Bahkan dikemudian hari, ia menyaksikan peristiwa-peristiwa sukses yang dialami oleh putera-puterinya.
Inilah riwayat singkat seorang tokoh wanita sejarah gereja, yang kemudian melahirkan tokoh-tokah gereja, misalnya John Wesley dan Charles Wesley. John Wesley pendiri Gereja Methodist sedang Charles Wesley seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan ribuan lagu-lagu rohani, yang kita nyanyikan di gereja samapai hari ini.